Davos, Swiss – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan komitmen kuat Pemerintah Indonesia dalam membangun masa depan bangsa melalui investasi besar-besaran di sektor pendidikan. Menurut Presiden, pembangunan sumber daya manusia menjadi fondasi utama bagi kemajuan, stabilitas, dan kemakmuran suatu negara di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Penegasan tersebut disampaikan Presiden Prabowo dalam pidatonya pada World Economic Forum (WEF) 2026 yang digelar di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026). Dalam forum bergengsi tersebut, Presiden memaparkan berbagai terobosan dan agenda strategis pemerintah Indonesia dalam melakukan transformasi pendidikan nasional.
“Pembangunan manusia dan sumber daya manusia adalah kunci bagi bangsa yang maju dan berhasil. Tidak ada negara yang bisa berharap stabil dan makmur jika rakyatnya buta huruf atau tidak mampu mengikuti perkembangan sains dan teknologi,” tegas Presiden Prabowo di hadapan para pemimpin dunia dan pelaku ekonomi global.
Presiden mengungkapkan bahwa sepanjang tahun lalu, pemerintah telah merenovasi sebanyak 16.140 sekolah di berbagai wilayah Indonesia. Selain itu, sebanyak 288.000 sekolah telah dilengkapi dengan panel interaktif layar datar berukuran 75 inci sebagai bagian dari program digitalisasi pendidikan nasional. Program ini dirancang untuk mempercepat pemerataan kualitas pembelajaran, termasuk di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar.
“Pada tahun depan, Indonesia akan menambah satu juta panel pintar interaktif, dengan target setiap sekolah memiliki tiga hingga empat panel. Dalam tiga tahun ke depan, kami ingin semua sekolah di Indonesia memiliki setidaknya enam ruang kelas dengan panel digital interaktif,” jelas Presiden.
Menurut Presiden Prabowo, digitalisasi pendidikan memungkinkan keterhubungan lintas wilayah secara daring dan memperpendek jarak antara pusat dan daerah. Ia menuturkan bahwa pemerintah pusat kini dapat memantau secara langsung proses belajar mengajar di sekolah-sekolah di seluruh Indonesia.
“Saya bisa masuk dari Jakarta ke sekolah mana pun di Indonesia dan melihat proses belajar mengajar secara langsung. Antusiasme para guru, murid, dan masyarakat sangat tinggi. Banyak warga desa yang terharu karena untuk pertama kalinya mereka merasa dilihat dan benar-benar dibantu oleh pemerintah pusat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Presiden menekankan bahwa pemerataan pendidikan merupakan strategi fundamental untuk memutus mata rantai kemiskinan struktural yang telah berlangsung turun-temurun di banyak daerah. Pemerintah, kata Presiden, tidak hanya fokus pada infrastruktur pendidikan, tetapi juga pada akses dan keberpihakan kepada kelompok masyarakat paling rentan.
“Tahun ini, kami akan merenovasi 60.000 sekolah lagi. Kami juga membangun 500 sekolah terpadu modern, termasuk 166 sekolah asrama yang telah selesai dibangun untuk anak-anak dari keluarga termiskin. Target kami adalah 500 sekolah asrama seperti ini,” ungkap Presiden Prabowo.
Presiden juga menyoroti pendekatan yang tidak lazim dalam pembangunan sekolah berasrama tersebut. Menurutnya, konsep sekolah asrama selama ini identik dengan kelompok masyarakat mampu, namun pemerintah justru membalik paradigma tersebut.
“Biasanya sekolah asrama hanya untuk anak-anak orang kaya. Tapi saya justru membangunnya untuk mereka yang sangat miskin agar bisa memutus lingkaran kemiskinan. Anak petani miskin tidak harus menjadi petani miskin. Anak pemulung tidak harus menjadi pemulung,” tegasnya.
Selain pembangunan sekolah dasar dan menengah, pemerintah juga mengembangkan pendidikan lanjutan dan pendidikan unggulan. Presiden mengungkapkan bahwa pemerintah tengah membangun 500 pusat keunggulan (center of excellence) di berbagai bidang strategis, serta memulai pembangunan 20 sekolah asrama baru bagi siswa dengan prestasi akademik tinggi.
Di sektor pendidikan tinggi, Presiden Prabowo menyampaikan rencana pembangunan 10 universitas baru di Indonesia. Saat ini, pemerintah tengah menjajaki kemitraan strategis atau skema twinning dengan universitas-universitas ternama dari Eropa, Inggris, dan Amerika Utara guna membentuk perguruan tinggi berstandar internasional di dalam negeri.
Langkah tersebut, menurut Presiden, merupakan bagian dari upaya besar Indonesia untuk menyiapkan generasi unggul yang mampu bersaing di tingkat global, sekaligus memastikan bahwa kemajuan pendidikan dapat dirasakan secara adil oleh seluruh lapisan masyarakat.
Tim Redaksi
