Bogor — Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam) terus memperkuat orkestrasi kebijakan lintas kementerian dan lembaga guna memastikan peran aktif Indonesia dalam menjaga stabilitas dan perdamaian dunia di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
Penguatan koordinasi tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Identifikasi Permasalahan dan Isu Strategis Kerja Sama Politik dan Perdamaian Internasional yang digelar Kemenko Polkam, Rabu (4/2/2026), di Bogor, Jawa Barat. Forum ini menjadi wadah strategis untuk menyelaraskan langkah nasional Indonesia dalam merespons berbagai tantangan global, mulai dari ketegangan geopolitik hingga isu keamanan lintas negara.
Rapat koordinasi ini menyoroti sejumlah isu krusial, antara lain kejahatan transnasional, keamanan siber, kontra-terorisme, serta partisipasi Indonesia dalam misi pemeliharaan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Melalui penyelarasan kebijakan antar instansi, Indonesia diharapkan tidak hanya hadir dalam forum multilateral, tetapi juga berkontribusi aktif dalam pembentukan agenda dan norma global.
Asisten Deputi Kerja Sama Multilateral Kemenko Polkam, Adi Winarso, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari proses evaluasi awal tahun terhadap pelaksanaan kerja sama multilateral Indonesia sepanjang 2025.
“Rapat koordinasi ini bertujuan mengidentifikasi berbagai permasalahan yang dihadapi selama 2025, sekaligus memetakan prioritas serta tantangan kerja sama multilateral pada 2026,” ujar Adi.
Ia menegaskan, Kemenko Polkam menjalankan fungsi koordinasi dan sinkronisasi agar kebijakan lintas sektor dapat berjalan searah, terutama dalam menghadapi isu global yang membutuhkan respons terpadu, baik dari sisi kebijakan, diplomasi, maupun implementasi.
“Kemenko Polkam siap memfasilitasi kementerian dan lembaga jika terdapat isu lintas sektor yang memerlukan penguatan dan penyelarasan koordinasi,” katanya.
Dalam forum tersebut, Direktur Kerja Sama Badan Narkotika Nasional (BNN), Aria T.M. Wibisono, mengungkapkan bahwa kejahatan narkotika kini menjadi bagian dari agenda keamanan global yang kompleks. Menurutnya, persoalan narkotika tidak lagi terbatas pada penegakan hukum, tetapi juga berkaitan erat dengan aspek politik, keamanan, dan ekonomi internasional.
Aria menyebutkan meningkatnya prevalensi penyalahgunaan narkotika di Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga target jaringan kejahatan narkotika transnasional.
“Jika koordinasi di dalam negeri belum solid, maka posisi Indonesia di forum multilateral akan melemah. Karena itu, penguatan koordinasi menjadi sangat penting,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir BRIN, Topan Setiadipura, menegaskan komitmen Indonesia dalam rezim non-proliferasi nuklir melalui Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons (NPT). Sebagai negara non-pemilik senjata nuklir, Indonesia secara konsisten menjalankan kewajiban transparansi dan pengawasan internasional melalui mekanisme International Atomic Energy Agency (IAEA).
“Penguatan kapasitas nasional di bidang teknologi nuklir tidak hanya mendukung pembangunan, tetapi juga meningkatkan posisi tawar Indonesia di tingkat internasional,” jelasnya.
Dari aspek hukum internasional, Koordinator Fungsi Politik Hukum Internasional Kementerian Luar Negeri, Aloysius Selwas Taborat, memaparkan perkembangan sejumlah instrumen hukum multilateral yang menjadi perhatian Indonesia pada 2026. Di antaranya UN Cybercrime Convention, di mana Indonesia berperan sebagai rapporteur, serta ASEAN Extradition Treaty (AET) yang akan memperkuat kerja sama penegakan hukum di kawasan.
“Koordinasi nasional yang kuat menjadi kunci agar Indonesia mampu memanfaatkan hukum internasional untuk melindungi kepentingan nasional sekaligus mendorong penyelesaian sengketa secara damai,” ujarnya.
Melalui rapat koordinasi ini, Kemenko Polkam menegaskan perannya sebagai pengoordinasi utama dalam memastikan langkah Indonesia di berbagai forum multilateral berjalan terpadu, terarah, dan sejalan dengan kepentingan nasional di tengah dinamika global yang terus berkembang.
Tim Redaksi
