Kasus Kusta Anak dan Cacat Tingkat Dua Masih Ditemukan, Dinkes Gorontalo Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini dan Penghapusan Stigma

Gorontalo – Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo, Jeane Istanti Dalie, menegaskan bahwa situasi penyakit kusta di Gorontalo masih membutuhkan kewaspadaan tinggi, meskipun capaian pengobatan menunjukkan hasil yang menggembirakan.

 

Hal tersebut disampaikan Jeane bertepatan dengan peringatan Hari Kusta Sedunia yang jatuh pada Minggu (25/1/2026). Menurutnya, masih ditemukannya kasus kusta pada anak serta adanya penderita dengan kecacatan tingkat dua menjadi sinyal bahwa upaya deteksi dini dan penghapusan stigma harus terus diperkuat.

 

Pada tahun 2026 ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengusung tema global “Leprosy is curable, the real challenge is stigma” atau “Kusta Dapat Disembuhkan, Tantangan Sebenarnya adalah Stigma”. Sementara itu, tema nasional yang diangkat adalah “Kusta: Temukan Dini. Obati Tuntas. Akhiri Stigma”.

 

Jeane menilai, tema tersebut menegaskan adanya pergeseran tantangan utama dalam penanggulangan kusta, dari aspek pengobatan ke persoalan sosial.

 

“Tantangan terbesar kita saat ini bukan lagi pada pengobatannya, tetapi masih kuatnya stigma dan diskriminasi terhadap penderita maupun penyintas kusta,” ujarnya.

 

Berdasarkan Data Program Kusta Provinsi Gorontalo Tahun 2025, tercatat sebanyak 213 kasus baru kusta yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota. Seluruh kasus tersebut merupakan tipe Multi Basiler (MB), sementara tidak ditemukan kasus tipe Pausi Basiler (PB). Secara kumulatif, jumlah pasien kusta yang masih menjalani pengobatan mencapai 290 orang, termasuk 77 pasien lanjutan dari tahun sebelumnya.

 

Dari total kasus baru tersebut, sebanyak 11 kasus atau 5,16 persen ditemukan pada anak di bawah usia 15 tahun. Angka ini masih melampaui target nasional yang ditetapkan di bawah 5 persen, sehingga menunjukkan bahwa penularan kusta aktif masih terjadi di tengah masyarakat.

 

Selain itu, persentase kecacatan tingkat dua pada kasus baru tercatat sebesar 4,69 persen atau setara dengan 10 kasus. Kondisi ini menjadi indikator adanya keterlambatan dalam penemuan dan penanganan dini di sejumlah wilayah.

 

Meski demikian, Jeane mengungkapkan adanya capaian positif yang patut diapresiasi. Angka kesembuhan atau Release From Treatment (RFT) kusta di Provinsi Gorontalo berhasil mencapai 92,26 persen, melampaui target nasional minimal sebesar 90 persen.

 

“Capaian ini menunjukkan bahwa layanan pengobatan kusta berjalan dengan baik. Namun, temuan kasus pada anak dan masih adanya kecacatan tingkat dua menjadi pengingat bahwa deteksi dini serta skrining kontak serumah harus terus diperkuat,” tegasnya.

 

Lebih lanjut, Jeane menekankan bahwa upaya eliminasi kusta tidak hanya bertumpu pada tindakan medis, seperti pengobatan tuntas dan pemberian obat pencegahan atau kemoprofilaksis. Edukasi masyarakat untuk menghapus stigma terhadap penderita kusta dinilai sebagai kunci keberhasilan.

 

“Kita harus bersama-sama mengakhiri stigma. Kusta bukan penyakit kutukan dan penderitanya tidak boleh dikucilkan. Dengan lingkungan yang mendukung, penderita akan lebih berani memeriksakan diri dan mendapatkan pengobatan sejak dini,” pungkas Jeane.

 

Tim Redaksi

More From Author

Wawali Tidore: Family Run Perkuat Kebersamaan dan Daya Tarik Pariwisata

Gaji ASN Terlambat, Gubernur Gorontalo Sampaikan Permohonan Maaf Usai Pelantikan Pejabat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Comments